Swasembada Pangan, Hanya Jadi Angan Angan

Swasembada Pangan, Hanya Jadi Angan Angan
Oleh : Slamet Sutresno, S.Kom, M.Pd.

Tahun 1990an di bawah era Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, Indonesia berhasil mencapai Swasembada Beras, bahkan kala itu, beras hasil petani kita telah masuk ke pasar Impor untuk Negara Negara tetangga. Capaian itu merupakan sebuah prestasi yang cukup membanggakan, artinya rakyat Indonesia tidak akan mengalami krisis pangan, harga beras akan murah dan cenderung stabil. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu Negara dikarenakan daya beli masyarakat akan baik.

Seiring berjalannya waktu, Indonesia beberapa kali mengalami gagal panen, bukan hanya Karena faktor cuaca, namun juga keberpihakan pemerintah terhadap petani. Sejak krisis moneter tahun 1998, semua harga melonjak tajam, harga pupuk naik, ongkos produksi naik, akibatnya petani tidak mampu beli pupuk dengan kualitas baik, hasil panen menurun, bahkan gagal.

Setiap silih bergantinya pemerintah, salah satu programnya adalah akan mengupayakan swasembada pangan. Demikian juga pemerintahan Jokowi dengan program Nawacitanya. Swasembada Pangan adalah salah satu program pemerintah saat ini. Bendungan dibangun, Waduk dan Embung dibangun, saluran irigasi dibangun, diperbaiki. Memang benar, infrastruktur merupakan salah satu pendukung keberhasilan suatu program. Harapannya, dengan adanya infrastruktur yang baik, panen akan meningkat, kualitas akan bagus.

Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah ketersediaan lahan pertanian, yang makin hari makin berkurang. Aku terperangah, menerawang, saat tahun ini mudik kekampung halaman di Slawi, Jawa Tengah. Kampungku dulu yang sebagian besar adalah lahan pertanian yang subur, kini sudah berubah. Sebagian lahan kini sudah dikuasai oleh developer dan pemodal. Sudah dikavling kavling untuk dijadikan sebagai lahan perumahan, sebagian lagi sudah Nampak berdiri beberapa rumah rumah kavling.

Disebuah sudut persawahan aku berdiri, itu adalah sawah milik Bapak, dulu bapak selalu menanam padi atau jagung atau kedelai jika tidak ada air. Kini sawah bapak sudah ditanami deretan pohon sengon dengan tinggi sekitar 3 meter, yang aku perkirakan usianya sekitar 2 tahunan. Alasannya sederhana, padi yang bapak tanam selalu gagal panen, karena sudah sulit air, pupuk mahal, ongkos produksi mahal, sedangkan harga gabah selalu murah ketika dijual. Tidak sebanding dengan ongkos dan tenaga yang dikeluarkan. Bagiku, itu adalah alasan yang rasional.

Aku mencoba menyusuri pematang sawah agak jauh lagi, aku perhatikan kanan dan kiri sawah milik orang lain, nasibnya juga tragis, pohon padi Nampak tinggi, namun butiran buah padi terlihat sangat sedikit, tanahnya mulai kering dan terlihat rekahan. Jika tidak ada air hujan yang banyak dan sering, maka tanaman pasti akan mati, tandanya gagal panen juga akan terjadi.

Hampir setengah jam aku mengamati, aku hanya bisa membayangkan sekaligus menyimpulkan, tidak akan mungkin Swasembada Pangan akan terjadi, jika lahan pertanian semakin berkurang, jika ongkos produksi mahal, jika harga gabah petani murah. Tidak Mungkin. Apakah program Swasembada Pangan hanya sekedar kampanye yang digembar gemborkan untuk mendulang suara dalam pemilu? Entahlah…namun nyatanya aku menyaksikan dan merasakan sendiri.

Pertanyaannya adalah mengapa Pemerintah Daerah sebagai kepanjangan tangan dari Pemerintah Pusat memberikan Ijin untuk alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dengan begitu mudahnya? Mengapa infrastruktur pertanian di daerah kami yang menjadi salah satu penghasil gabah tidak dibangun atau dipelihara dengan baik, hingga sawah sawah itu menjadi tidak ada air, hingga Bapak memutuskan untuk menanaminya dengan Pohon Sengon, bukan padi? Lalu, mengapa harga pupuk juga mahal sedangkan ketika musim panen tiba harga gabah menjadi sangat murah, bahkan pemerintah pusat memutuskan untuk impor beras disaat musim panen raya terjadi, mengapa?

Deretan pohon sengon di lahan persawahan milik Bapak

Swasembada Pangan, engkau hanyalah Angan angan…(SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *