Swasembada Pangan, Hanya Jadi Angan Angan

Swasembada Pangan, Hanya Jadi Angan Angan
Oleh : sozohimamura

Tahun 1990an di bawah era Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, Indonesia berhasil mencapai Swasembada Beras, bahkan kala itu, beras hasil petani kita telah masuk ke pasar Impor untuk Negara Negara tetangga. Capaian itu merupakan sebuah prestasi yang cukup membanggakan, artinya rakyat Indonesia tidak akan mengalami krisis pangan, harga beras akan murah dan cenderung stabil. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu Negara dikarenakan daya beli masyarakat akan baik.

Seiring berjalannya waktu, Indonesia beberapa kali mengalami gagal panen, bukan hanya Karena faktor cuaca, namun juga keberpihakan pemerintah terhadap petani. Sejak krisis moneter tahun 1998, semua harga melonjak tajam, harga pupuk naik, ongkos produksi naik, akibatnya petani tidak mampu beli pupuk dengan kualitas baik, hasil panen menurun, bahkan gagal.

Setiap silih bergantinya pemerintah, salah satu programnya adalah akan mengupayakan swasembada pangan. Demikian juga pemerintahan Jokowi dengan program Nawacitanya. Swasembada Pangan adalah salah satu program pemerintah saat ini. Bendungan dibangun, Waduk dan Embung dibangun, saluran irigasi dibangun, diperbaiki. Memang benar, infrastruktur merupakan salah satu pendukung keberhasilan suatu program. Harapannya, dengan adanya infrastruktur yang baik, panen akan meningkat, kualitas akan bagus.

Namun satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah ketersediaan lahan pertanian, yang makin hari makin berkurang. Aku terperangah, menerawang, saat tahun ini mudik kekampung halaman di Slawi, Jawa Tengah. Kampungku dulu yang sebagian besar adalah lahan pertanian yang subur, kini sudah berubah. Sebagian lahan kini sudah dikuasai oleh developer dan pemodal. Sudah dikavling kavling untuk dijadikan sebagai lahan perumahan, sebagian lagi sudah Nampak berdiri beberapa rumah rumah kavling.

Disebuah sudut persawahan aku berdiri, itu adalah sawah milik Bapak, dulu bapak selalu menanam padi atau jagung atau kedelai jika tidak ada air. Kini sawah bapak sudah ditanami deretan pohon sengon dengan tinggi sekitar 3 meter, yang aku perkirakan usianya sekitar 2 tahunan. Alasannya sederhana, padi yang bapak tanam selalu gagal panen, karena sudah sulit air, pupuk mahal, ongkos produksi mahal, sedangkan harga gabah selalu murah ketika dijual. Tidak sebanding dengan ongkos dan tenaga yang dikeluarkan. Bagiku, itu adalah alasan yang rasional.

Aku mencoba menyusuri pematang sawah agak jauh lagi, aku perhatikan kanan dan kiri sawah milik orang lain, nasibnya juga tragis, pohon padi Nampak tinggi, namun butiran buah padi terlihat sangat sedikit, tanahnya mulai kering dan terlihat rekahan. Jika tidak ada air hujan yang banyak dan sering, maka tanaman pasti akan mati, tandanya gagal panen juga akan terjadi.

Hampir setengah jam aku mengamati, aku hanya bisa membayangkan sekaligus menyimpulkan, tidak akan mungkin Swasembada Pangan akan terjadi, jika lahan pertanian semakin berkurang, jika ongkos produksi mahal, jika harga gabah petani murah. Tidak Mungkin. Apakah program Swasembada Pangan hanya sekedar kampanye yang digembar gemborkan untuk mendulang suara dalam pemilu? Entahlah…namun nyatanya aku menyaksikan dan merasakan sendiri.

Pertanyaannya adalah mengapa Pemerintah Daerah sebagai kepanjangan tangan dari Pemerintah Pusat memberikan Ijin untuk alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dengan begitu mudahnya? Mengapa infrastruktur pertanian di daerah kami yang menjadi salah satu penghasil gabah tidak dibangun atau dipelihara dengan baik, hingga sawah sawah itu menjadi tidak ada air, hingga Bapak memutuskan untuk menanaminya dengan Pohon Sengon, bukan padi? Lalu, mengapa harga pupuk juga mahal sedangkan ketika musim panen tiba harga gabah menjadi sangat murah, bahkan pemerintah pusat memutuskan untuk impor beras disaat musim panen raya terjadi, mengapa?

Deretan pohon sengon di lahan persawahan milik Bapak

Swasembada Pangan, engkau hanyalah Angan angan…(SS)

Si Cantik Saat Sakit

Si Cantik Saat Sakit
Oleh : sozohimamura

Libur semester sekaligus akhir tahun 2017 memang cukup melelahkan. Kami sudah merencanakan jauh jauh hari, bahkan sudah memesan villa dan hotel di beberapa tujuan kami nanti. Agenda pertama adalah ke Objek Wisata Pemandian Air panas di Guci. Kami menginap semalam di sebuah villa yang memiliki fasilitas kolam renang air panas yang cukup lengkap disana. Kami menyempatkan diri untuk menyambangi rumah orangtuaku di Slawi sekaligus silaturahmi. Anak anak cukup senang di Guci, selain menikmati kolam renang air panas, mereka juga bisa bermain wahana di kolam seperti seluncur, pancuran serta permainan yang lain. Aku memang menjadikan Guci sebagai tujuan ketika ingin berlibur melepas kepenatan, berendam di air panas juga relaksasi dibawah pancuran air panas adalah favoritku. Setelah itu tubuh terasa agak rileks dan enteng.

Selepas dari Guci kami menghabiskan waktu dirumah Istri di Tempel, Indramayu. Setelah sebelumnya mampir ke Cirebon untuk memuaskan anak anak main di Wahana Permainan sekaligus membeli makanan favorit si Kakak yaitu Chicken dan Kentang. Di Indramayu kami hanya istirahat dan menghabiskan waktu dirumah sebelum kembali ke Jakarta.

Pagi hari kami berangkat ke Jakarta, mumpung liburan si Kakak ingin ikut dan menghabiskan waktu liburan di Jakarta. Namun seperti yang sudah kami rencanakan sebelumnya, kami akan ke Bandung untuk menghabiskan waktu liburan. Hotel pun sudah kami pesan, tujuannya hanya ke beberapa tempat yang cocok untuk anak anak. Dua hari dua malam kami di bandung. Cukup melelahkan memang, bahkan hari pertama si Kakak sempat demam, namun bisa kami tangani dengan memberinya obat, kompres dan kerikan.

Setibanya di Jakarta dan beberapa hari setelah si Kakak kami pulangkan ke Indramayu karena waktu sekolah sudah tiba. Si Cantik mulai demam, flu, dan batuk. Beberapa hari badannya panas, kami mencoba memberikan obat sirup flu dan batuk. Sempat kami periksakan ke Bidan namun beberapa hari tidak juga kunjung membaik.

Minggu sore panas badannya naik, aku sempat bilang ke Istri “coba berikan dulu obat, jika sampai bada isya tidak turun, maka kita bawa ke dokter atau rumah sakit”. Aku menuju ke masjid untuk sholat berjamaah dan pengajian rutin malam senin. Selepas itu setibanya aku dirumah, ternyata panasnya belum juga turun, maka kami putuskan segera pergi ke dokter. Namun berhubung hari itu adalah Minggu, maka dokter pribadi juga poli anak dirumah sakit tidak buka. Maka tujuan satu satunya adalah ke IGD, pertama kami masuk ke IGD RS Puri Cinere, namun nampaknya antrian cukup panjang.

Kami sempat berdialog dengan pasien yang sedang menunggu, yang menyatakan bahwa sudah lama mengantri namun belum juga dipanggil. Seketika itu aku memutuskan untuk mencari IGD di RS Lain. IGD RS Prikasih Juga Penuh, terus aku menyusuri jalanan malam itu kearah RS Fatmawati, namun istri tidak mau, dan menyarankan untuk langsung menuju ke RS Siloan. Beruntung setibanya di IGD RS Siloam kondisi lengang, maka si Cantik langsung ditangani oleh beberapa perawat dan seorang dokter Jaga. Usianya muda, tampak gesit, berkacamata, nampaknya keturunan Tionghoa.

Setelah berdialog dan berkonsultasi maka diputuskan untuk diambil darah untuk mengecek apakah ada virus dalam darah penyebab demam, tindakan pun dilakukan. Darah diambil, infuse cairan pun dipasang untuk menurunkan panas. Setelah 3 jam berlalu, panas mulai turun, hasil lab menunjukkan tidak adanya virus berbahaya yang menyebabkan demam. Dokter hanya mengatakan perlu istirahat karena mungkin terlalu capek. Maka kami putuskan untuk membawanya pulang. Tentu setelah mengurus administrasi dan keuangan.

Pagi hari badannya masih lemas, nafsu makan sepertinya tidak ada, bahkan tidak mau makan, susu pun kadang muntah. Beberapa hari berlalu kondisinya belum berubah, kami semakin kuatir, maka aku mencoba menelpon beberapa referensi rumah sakit dan dokter yang bagus untuk dapat kami kunjungi. Akhirnya salah satu dokter anak senior di RS Puri Cinere kami kunjungi, namanya dokter Hari. Sosoknya Gendut, tidak terlalu tinggi, kepiawaiannya Nampak mungkin karena sudah lama berpengalaman sebagai dokter spesialis anak.

Setelah antri beberapa pasien, kami dipanggil. Dokter Hari menanyakan kronologisnya, aku pun menjelaskan secara detail. Sambil dia periksa kondisi si Cantik. Dokter Hari menyarankan agar dirawat saja, karena kondisinya tidak mau makan, juga tidak mau minum obat. Itu artinya harus di infuse untuk memasukkan obat, juga untuk memberinya suplay makanan atau nutrisi agar kondisinya segera pulih. Tanpa ada pilihan lain, kami pun setuju. Dokter hari memberiku secarik kertas coret coretan untuk dibawa ke bagian depan. Aku disuruh mencari kamar, sementara si Cantik menunggu tentu dengan rewel dan manjanya. Istriku dan Pak de Maman yang mendampingi tidak dapat berbuat banyak mengatasi tangis dan rewelnya.

Setelah memilih kamar dan menyelesaikan administrasi awal kamipun segera di antar oleh beberapa perawat menuju kamar perawatan. Kami memilih kamar VIP, pertimbangannya tentu bukan karena banyak uang. Kami memilih kenyamanan untuk si Cantik juga kenyamanan untuk pasien lain. Kuatir jika memilih kelas 1, 2 atau 3 pasien lain akan terganggu. Pilihan kami tepat, dengan pilihan kamar VIP fasilitas dan layanan yang diberikan sangat baik dan cukup memuaskan. Sangat membantu proses pemulihan kesembuhan si Cantik.

Hari pertama dia diperiksa darah, diberikan nutrisi dan obat obatan melalui selang infuse. Hari kedua dilakukan rontgen untuk mengecek kondisi paru parunya, selang infuse masih diberikan. Hari ketiga selang infuse untuk makan sudah mulai dicabut, dengan pertimbangan sudah mulai mau makan dan minum meskipun hanya sedikit. Setiap hari Dokter Hari berkunjung untuk melakukan pemeriksaan, didampingi oleh seorang Dokter Wanita Spesialis Ahli Nutrisi. Rupanya itu sudah menjadi prosedur standard bagi seorang pasien anak anak. Pada kunjungan hari ketiga Dokter Hari menyatakan bahwa Si Cantik besok sudah boleh pulang. Alhamdulillah, lega rasanya…dilihat dari kondisinya pun sudah lebih bertenaga, juga panas badannya, sudah mulai normal.

Setelah hari ketiga dan menyelesaikan administrasi tentunya, kami berkemas. Menunggu kunjungan dokter Hari terakhir sebelum meninggalkan ruang perawatan. Dari pagi kami sudah siap siap, namun nampaknya dokter Hari ada kesibukan di RS lain, hingga kamipun menunggu sampai Siang. Selepas Ashar dokter hari baru tiba, mengecek kondisi dan berpesan untuk kesembuhan si kecil, tidak boleh makan ini, tidak boleh makan itu, dan lain sebagainya. Tentu menganjurkan untuk control rutin agar kondisi si Cantik benar benar sembuh. (SS)

Selamat jalan “Pak Dalang”

Bupati Pengatur Negara
Oleh: Dahlan Iskan

Di tengah duka Surabaya, teman saya meninggal pula: Ki Dalang Enthus Susmono. Agak telat saya tahu. Dari kiriman video teman dari Indonesia. Yang menyebutkan itulah moment saat-saat terakhir sebelum Enthus meninggal. Begitu tersengal-sengal.

Dalam Islam momen itu disebut nazak. Saya balas. Dengan nada membela Enthus: Kok tidak ada yang berinisiatif membawa ke dokter ya? Kok hanya dirangkul? Kok hanya didengarkan? Hanya diamini ya? Bahkan divideo? Seperti dibiarkan menuju ajal?

Sikap seperti itu biasanya hanya terjadi kalau yang nazak adalah orang yang sudah sangat tua. Sudah lama sakit-sakitan. Sudah tidak ada harapan. Sudah ada kesimpulan bahwa meninggal akan lebih baik. Biar saja meninggal dengan tenang.

Tapi Enthus kan baru 51 tahun. Masih segar. Bahkan menjabat bupati Tegal. Kok dibiarkan begitu? Ternyata yang di video itu bukan Enthus.

Alhamdulillah. Saya dapat kepastian dari teman saya di Radar Tegal. Katanya: yang di video itu pejabat sementara bupati Tegal: Sinoeng Rahmadi. Yang lagi kesurupan. Setelah nyadran menjelang bulan puasa. Di makam Ki Gede Sebayu. Pendiri Tegal. Kebetulan hari itu HUT Tegal.

Tapi Enthus memang juga meninggal. Hari itu. Siang itu Enthus ke satu madrasah di kecamatan Jatinegara. Perbatasan Tegal-Pemalang. Menghadiri acara penutupan masa sekolah tahun ini.

Dengan membawa beberapa wayang golek. Pentas kecil-kecilan: wayang santri.

Setelah makan siang Enthus jalan lagi. Akan menghadiri pengajian. Di tengah jalan Enthus merasa sulit nafas. Lalu dimampirkan ke puskesmas Jatinegara. Diperiksa. Tekanan darahnya tinggi. Gula darahnya: 400.

Enthus koma. Dilarikan ke rumah sakit Tegal. Di tengah jalan meninggal dunia: Senin, pukul 7 malam.

Terlalu muda untuk meninggal. Terlalu banyak yang masih harus diperbuat. Baik di kesenian maupun di pemerintahan.

Enthus memang menjabat Bupati Tegal. Dia harus cuti karena mencalonkan diri lagi. Untuk sementara diganti pejabat yang kesurupan itu.

Posisi pencalonannya sangat kuat. Berpasangan dengan wakilnya yang sekarang: Umi Azizah. Hampir pasti akan terpilih lagi.

Enthus memang dekat dengan masyarakat. Kepopulerannya sebagai dalang terkemuka sangat membantunya terpilih. Tapi juga ada unsur nasib baiknya: pesaingnya, bupati yang lama yang juga mencalonkan diri, tiba-tiba meninggal dunia. Persis seperti Enthus sekarang.

Selama masa kampanye ini Enthus seperti kipas angin: muter terus. Pagi, siang, sore, malam. Tengah malam pun masih menerima tamu. Ia baru tidur menjelang subuh.

Kebiasannya melek malam (saat mendalang) terbawa. Dan memang Enthus tetap mendalang. Jumat-Sabtu-Minggu Enthus melayani order. Termasuk dari luar kota. Mendalang semalam suntuk.

Suatu saat Enthus bilang kepada saya: gaji saya sebagai bupati tidak ada apa-apanya dibanding pendapatan saya dari mendalang.

Memang Enthus, sebagai bupati, dikenal bersih. Terbuka. Mudah dijadikan tempat curhat warganya. Suatu saat saya nonton pagelarannya. Sampai pagi.

Saya pun bertanya: apakah jadi bupati itu berat. Inilah jawabnya: Saya kan sudah biasa ngatur negara, apa susahnya ngatur hanya kabupaten…hahahhaa. Kami pun tertawa-tawa.

Sebagai dalang Enthus memang sudah biasa ngatur negara: Amarta, Astina, Mandura, Ndworowati ….

Yang saya suka dari Enthus adalah: semuanya. Suaranya yang bulat-merdu-mantab. Yang bisa mewakili karakter suara puluhan tokoh wayang yang berbeda. Yang bisa menangis sesenggukan dengan trenyuhnya. Yang bisa tertawa ngakak dengan naturalnya. Yang bisa marah dengan garangnya. Yang bisa merayu dengan mendayunya.

Bahkan bisa mencampur tawa ngakak dengan tangis sedih. Seperti dalam adegan Petruk-Bagong menghadapi ancaman Gatutkaca. Dalam lakon ‘Semar Membangun Kayangan’. Bisa dilihat youtubenya.

Dan Enthus sangat bangga dengan kemampuannya itu. Dengan sabetannya. Di adegan perangnya.

Yang juga saya kagumi. Kadang muncul kegilaannya: ia berdiri, berperang dengan wayangnya sendiri. Enthus lebih dari sekedar dalang. Ia seniman. Dengan kreativitasnya. Dengan kebebasannya. Dengan daya ciptanya.

Ia ciptakan wayang-wayang baru: Wayang Gus Dur, wayang George Bush, wayang Usamah bin Laden dan wayang yang jadi idola orang tegal: Si Lupit. Si Lupit mewakili karakter orang Tegal. Ceplas-ceplos, kasar, bego-pintar, polos dan apa adanya.

Lewat wayang Si Lupit itulah Enthus bisa mengkritik siapa saja. Dengan kejamnya, dengan sinisnya dan dengan lucunya.

Ia ciptakan lagu-lagu. Gending-gending. Dia ajari sinden bagaimana harus menyanyikannya. Ia ciptakan seragam wiyogo: penabuh gamelan. Mirip pakaian para wali.

Dan Enthus sangat menguasai masalah agama. Dia demonstrasikan itu dalam wejangan-wejangan filsafatnya. Tidak mungkin dilakukan dalang lain. Terlalu sensitif. Enthus juga sangat bangga dengan ke-Ansor-annya, keahlisunnahwaljamaahnya.

Dan Enthus bisa mendalang wayang Sunda. Wayang golek. Dengan sempurnanya. Tidak dimiliki dalang lainnya di seluruh dunia.

Kemampuannya itu ia peroleh secara otodidak. Belajar sendiri. Dari ayahnya. Yang juga dalang. Dari kakeknya. Yang juga dalang. Dari leluhurnya: yang juga dalang.

Darahnya: dalang. Dagingnya: dalang. Nafasnya: dalang. Dan Enthus, harus saya akui, sangat ganteng. Hidungnya, pipinya, dagunya, dahinya, telinganya, seperti kumpulan semua onderdil ganteng dikumpulkan di wajah Enthus.

Suatu saat saya kemukakan kegantengannya itu. Apa ia bilang? ”Rasanya memang sayalah dalang paling ganteng sedunia,” katanya. Hahahaa… Hanya satu yang saya sayangkan: ia tidak bisa lagi membaca tulisan saya ini. (dis)

Marhaban Ya Ramadhan 1439 H

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sepertinya belum begitu lama meninggalkan ramadhan tahun lalu. Jika aku renungi, terlalu banyak memang waktu terbuang sia-sia, tidak produktif apalagi untuk urusan agama. Ramadhan kembali datang, hati ini pun merasa belum benar benar menyiapkan untuk kedatangannya.

Di Ramadhan hari pertama, aku hanya bisa berharap agar mampu menjalani Ramadhan tahun ini dengan lebih baik, lebih khusyuk dan sempurna agar ketika Ramadhan pergi jiwaku kembali suci, hatiku bersih seperti bayi yang baru lahir dimuka Bumi. Aamiin. (SS)

Inilah Hakikat Puasa Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr HM Harry M Zein

Tujuan ibadah puasa adalah untuk mencapai derajat takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang imannya senantiasa aktif membentuk dirinya, sehingga dia tetap istiqamah (konsisten) dalam beribadat, berakhlak mulia dan terjauh dari segenap dosa dan maksiat.

Banyak orang yang telah berulang kali puasa setiap tahun, bahkan ada yang sudah puluhan kali berpuasa, namun taqwa masih jauh dari kehidupannya, imannya tidak aktif, ibadatnya tidak istikamah, dan akhlaqnya jauh dari mulia, perbuatan dosa masih mengotori dirinya, yang diperoleh dari ibadah puasa hanya lapar dan haus saja.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab tidak sedikit manusia menduga bahwa puasa itu hanya sekadar menahan lapar dan haus saja, dan mereka juga memahami bahwa puasa itu adalah pengendalian hawa nafsu selama bulan Ramadan saja, lalu setelah Ramadan mereka kembali dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Jika hal itu menimpa kita, maka sangat memperhatinkan. Itu artinya kita belum memahami hakikat dari berpuasa. Dimana hakikat puasa bukan sekadar menahan hawa nafsu dari rasa lapar dan haus. Namun hakikat puasa pengendalian diri secara total dengan kendali iman. Selain mengendalikan mulut dari makan dan minum, puasa juga mengendalikan lidah dari perkataan yang tidak terpuji, seperti bohong, bergunjing, bergosip (gibah), caci maki dan lain lainnya.

Puasa juga pengendalian mata (ghadhul bashar) dari memandang hal yang diharamkan Allah swt seperti melihat tontonan aurat, tontonan maksiat dan lain lain.

Puasa juga mengendalikan telinga dari mendengarkan hal- hal yang tidak diredhai Allah seperti mendegar musik hura-hura, mendengar gosip dan lain-lain. Puasa juga mengendalikan kaki dan tangan dari tingkah laku yang tidak diridhai Allah.

Sabda Rasulullah saw berkata, “Siapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji, maka bagi Allah SWT tidak ada artinya dia meninggalkan makan dan minumnya (percuma dia berpuasa).” (HR.Buhari dari Abu Hurarah).

Demikianlah hakikat puasa yang akan membawa manusia beriman menuju taqwa yang merupakan puncak kemuliaan manusia di hadapan Allah swt.

Puasa juga mengandung makna pembangunan atau pembentuk­kan karakter, penguasaan atas hawa nafsu dan suatu inspirasi ke arah kreativitas individual dan sosial.

Puasa juga telah menjadi bagian dari pilar-pilar Islam yang merupakan kewajiban agama bagi semua orang yang berimankan tauhid. Dan karena itu barangsiapa yang menolaknya maka ia termasuk dalam golongan yang ingkar agama.

Puasa juga merupakan tanda lahir dari ketaatan, penyerahan dan peribadatan kepada Allah SWT. Allah swt berfirman,“Puasa itu untuk-Ku, karena itu Akulah yang akan memberi ganjar­aannya langsung!” (Bihar al-Anwaar 96:255).

Dengan puasa seorang muslim mengungkapkan penyera­hannya (taslim) kepada perintah Allah, sambutannya atas kehendak-Nya, dan merupakan penolakkan yang tegas atas penguasaan hawa nafsu atas dirinya, dan hasrat priba­dinya. Puasa menjadi sebuah manifestasi dari ketaatan makhluk-Nya kepada Kehendak Yang Maha Kuasa.

Ekspresi yang diungkapkan lewat puasa ini mewakili bentuk penguasaan diri, dan usaha dalam mengatasi kesenangan-kesenangan jasadi dan berbagai kenikmatan badani demi kecintaan Allah yang penuh berkat, kedekatan kepada-Nya dan gairah untuk memperoleh keridhaan-Nya.

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya mustajab (dikabulkan), amalnya diterima. Sesungguhnya bagi seorang yang berpuasa di saat berbuka do’anya tidak tertolak!” (Bihar al-Anwar 93:360)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya ada satu surga yang pada pintunya ada penjaga yang melarang siapapun masuk kecuali orang-orang yang berpuasa.” (Al-Bihar 96:252)

Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (Furu’ al-Kafi 4:65)

Sayyidah Fathimah az-Zahra as berkata, “Dia (Allah swt) menjadikan puasa sebagai penguat keikh­lasan” (A’yan al-Syi’ah 1:316). Karena itu, patut kita memetik hakikat puasa. Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk memahami hakikat puasa, sehingga pintu surga terbuka lebar untuk kita. Aamiin.